BUKU MODERASI BERAGAMA



BUKU MODERASI BERAGAMA 
BADAN LITBANG DAN DIKLAT KEMENTERIAN AGAMA RI 2019 
PROLOG: LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN 

• Buku ini hadir untuk menjelaskan tentang moderasi beragama dan meluruskan salah faham tentangnya. Karenanya, secara keseluruhan isi buku ini akan mengandung penjelasan tentang apa (what), mengapa (why), dan bagaimana (how). 

• Apa yang dimaksud dengan moderasi beragama? Mengapa moderasi beragama penting dalam konteks kehidupan keagamaan di Indonesia khususnya? Dan bagaimana cara atau strategi penguatan dan implementasi moderasi beragama tersebut, agar kerukunan umat beragama terjaga? 

MENURUT KAMUS 

• Sebagaimana akan dipaparkan dalam bagian tersendiri buku ini, secara singkat dapat dijelaskan di sini bahwa ‘moderat’ adalah sebuah kata sifat, turunan dari kata moderation, yang berarti tidak berlebih-lebihan atau sedang. Dalam bahasa Indonesia, kata ini kemudian diserap menjadi 'moderasi', yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai 'pengurangan kekerasan', atau 'penghindaran keekstreman'. 

• Dalam KBBI juga dijelaskan bahwa kata ‘moderasi’ berasal dari Bahasa Latin moderâtio, yang berarti ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Maka, ketika kata moderasi disandingkan dengan kata 'beragama', menjadi moderasi beragama, istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keesktreman dalam praktik beragama. GARIS BESAR BUKU 

• Keseluruhan buku ini mengandung klarifikasi dan penjelasan tentang makna moderat dan moderasi dalam beragama tersebut, agar tidak lagi disalahpahami oleh umat beragama. 

• Penjelasan ini penting karena moderasi beragama sesungguhnya merupakan esensi agama, dan menjadi sebuah keniscayaan dalam konteks masyarakat yang plural dan multukultural seperti Indonesia, demi terciptanya kerukunan intra dan antarumat beragama. 

SALAH FAHAM TENTANG MODERASI BERAGAMA 

• Anggapan keliru lain yang lazim berkembang di kalangan masyarakat adalah bahwa berpihak pada nilai-nilai moderasi dan toleransi dalam beragama sama artinya dengan bersikap liberal dan mengabaikan norma-norma dasar yang sudah jelas tertulis dalam teks-teks keagamaan, sehingga dalam kehidupan keagamaan di Indonesia, mereka yang beragama secara moderat sering dihadap-hadapkan secara diametral dengan umat yang dianggap konservatif dan berpegang teguh pada ajaran agamanya. 

• Sebaliknya, moderat dalam beragama berarti percaya diri dengan esensi ajaran agama yang dipeluknya, yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang, tetapi berbagi kebenaran sejauh menyangkut tafsir agama. 

MODERASI BERAGAMA MENURUT ULAMA 

• Salah satu di antara ulama yang banyak menguraikan tentang moderasi adalah Yusuf al-Qaradhawi. Menurut Abdillah (2015), Yusuf al-Qardhawi adalah seorang tokoh Ikhwan moderat dan sangat kritis terhadap pemikiran Sayyid Quthb, yang dianggap menginspirasi munculnya radikalisme dan ektrimisme serta paham yang menuduh kelompok lain sebagai thâghût atau kafir (takfiri). Dia pun mengungkapkan 30 rambu-rambu moderasi ini, antara lain: (1) pemahaman Islam secara komprehensif, (2) keseimbangan antara ketetapan syari’ah dan perubahan zaman, (3) dukungan kepada kedamaian dan penghormatan nilai-nilai kemanusiaan, (4) pengakuan akan pluralitas agama, budaya dan politik, dan (5) pengakuan terhadap hak-hak minoritas. 

• Dari definisi diatas, penggunaan kata moderasi ini ditujukan kepada sikap atau prilaku umat Islam atau cara beragama umat Islam, kalau itu merujuk pada kata ummatan wasathan dalam QS. Al-Baqarah: 143 yang berarti umatnya. 

TUJUAN DILUNCURKANNYA 

• Memberikan sumbangsih pemikiran tentang uraian yang mengajarkan sikap beragama yang moderat atau seimbang, 

• Meneguhkan komitmen kebangsaan terhadap NKRI, 

• Menerima Pancasila sebagai bentuk final negara Indonesia, 

• Memperkuat penerimaan terhadap keragaman atau kemajemukan, dan 

• Melestarikan pandangan dan tradisi keagamaan yang ramah dengan budaya lokal. 

KAJIAN KONSEPTUAL MODERASI BERAGAMA 

• Secara etimologis, kata ‘moderasi’ berasal dari Bahasa Latin moderâtio, yang berarti ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Kata itu juga berarti “penguasaan diri” (dari sikap sangat kelebihan dan kekurangan). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan dua pengertian kata ‘moderasi’, yakni: 1. n pengurangan kekerasan, dan 2. n penghindaran keekstreman. Berrsikap moderat berarti bersikap wajar, biasabiasa saja, dan tidak ekstrem. 

• Dalam bahasa Inggris, kata moderation sering digunakan dalam pengertian average (rata-rata), core (inti), standard (baku), atau non-aligned (tidak berpihak). Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan (belief), moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara. 

• Sedangkan dalam bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata wasaṭ atau wasaṭīyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuṭ (tengah-tengah), i’tidāl (adil), dan tawāzun (berimbang). Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wāsiṭ. Dalam bahasa Arab pula, kata wasaṭīyah diartikan sebagai “pilihan terbaik”. 

• Dalam buku tsb, kata wasaṭīyah menyiratkan satu makna yang sama, yakni adil, yang dalam konteks ini berarti memilih posisi jalan tengah di antara berbagai pilihan ekstrem. 

• Kata wāsiṭ bahkan sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia yang memiliki tiga pengertian, yaitu: 1) penengah, perantara (misalnya dalam perdagangan, bisnis); 2) pelerai (pemisah, pendamai) antara yang berselisih; dan 3) pemimpin di pertandingan. 

APA ARTI MODERASI? 

• Moderasi adalah jalan tengah. Dalam sejumlah forum diskusi kerap terdapat moderator orang yang menengahi proses diskusi, tidak berpihak kepada siapa pun atau pendapat mana pun, bersikap adil kepada semua pihak yang terlibat dalam diskusi. 

• Moderasi juga berarti ‘’sesuatu yang terbaik’’. Sesuatu yang ada di tengah biasanya berada di antara dua hal yang buruk. Contohnya adalah keberanian. Sifat berani dianggap baik karena ia berada di antara sifat ceroboh dan sifat takut. Sifat dermawan juga baik karena ia berada di antara sifat boros dan sifat kikir. 

APA ITU MODERASI BERAGAMA? 

• Moderasi beragama berarti cara beragama jalan tengah sesuai pengertian moderasi tadi. 

• Dengan moderasi beragama, seseorang tidak ekstrem dan tidak berlebih-lebihan saat menjalani ajaran agamanya. 

• Orang yang mempraktekkannya disebut moderat. 

BISA DISEBUTKAN CONTOH BERAGAMA YANG BERLEBIHAN? 

• Contoh paling gamblang adalah ketika seorang pemeluk agama mengafirkan saudaranya sesama pemeluk agama yang sama hanya gara-gara mereka berbeda dalam paham keagamaan, padahal hanya Tuhan yang Maha Tahu apakah seseorang sudah masuk kategori kafir atau tidak. Seseorang yang bersembahyang terus-menerus dari pagi hingga malam tanpa mempedulikan problem sosial di sekitarnya bisa disebut berlebihan dalam beragama. 

• Seseorang juga bisa disebut berlebihan dalam beragama ketika ia sengaja merendahkan agama orang lain, atau gemar menghina figur atau simbol suci agama tertentu. Dalam kasus seperti ini ia sudah terjebak dalam ekstremitas yang tidak sesuai dengan prinsipprinsip moderasi beragama. 

DI MANA POSISI ORANG MODERAT DI ANTARA DUA KUTUB EKSTREM ITU? 

• Orang moderat harus berada di tengah, berdiri di antara kedua kutub ekstrem itu. Ia tidak berlebihan dalam beragama, tapi juga tidak berlebihan menyepelekan agama. 

• Dia tidak ekstrem mengagungkan teks-teks keagamaan tanpa menghiraukan akal/nalar, juga tidak berlebihan mendewakan akal sehingga mengabaikan teks. 

• Pendek kata, moderasi beragama bertujuan untuk menengahi serta mengajak kedua kutub ekstrem dalam beragama untuk bergerak ke tengah, kembali pada esensi ajaran agama, yaitu memanusiakan manusia. 

• Prinsipnya ada dua: adil dan berimbang. Bersikap adil berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya seraya melaksanakannya secara baik dan secepat mungkin. 

• Sedangkan sikap berimbang berarti selalu berada di tengah di antara dua kutub. Dalam hal ibadah, misalnya, seorang moderat yakin bahwa beragama adalah melakukan pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk menjalankan ajaran-Nya yang berorientasi pada upaya untuk memuliakan manusia. 

• Orang yang ekstrem sering terjebak dalam praktek beragama atas nama Tuhan hanya untuk membela keagungan-Nya saja seraya mengenyampingkan aspek kemanusiaan. 
• Orang beragama dengan cara ini rela membunuh sesama manusia “atas nama Tuhan” padahal menjaga kemanusiaan itu sendiri adalah bagian dari inti ajaran agama. 

APA CONTOH MELANGGAR BATASAN KESEPAKATAN BERSAMA? 

• Contohnya jika seseorang, atas nama ajaran agama, melanggar butir-butir Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang telah menjadi kesepakatan bersama bangsa Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, itu sudah bisa dinilai ekstrem dan melanggar. 

• Dalam hal kehidupan bermasyarakat, niscaya juga banyak peraturan yang telah disepakati bersama oleh seluruh warga di lingkungan tempat tinggal. 

• Jika seorang warga, atas nama agama yang dianutnya, melanggar kesepakatan bersama yang telah ia setujui tersebut, maka ia pun dapat dianggap berlebih-lebihan 

• Pendek kata, inti pokok ajaran agama adalah untuk menjaga kemanusiaan, bukan untuk menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. 

• Paham yang mengakibatkan terbunuhnya orang tak bersalah, paham itu jelas bertentangan dengan fitrah agama dan tentu saja tidak bisa dibenarkan. 

• Orang moderat akan memperlakukan mereka yang berbeda agama sebagai saudara sesama manusia dan akan menjadikan orang yang seagama sebagai saudara seiman. Orang moderat akan sangat mempertimbangkan kepentingan kemanusiaan di samping kepentingan keagamaan yang sifatnya subjektif. 

MODERASI BERAGAMA DAN BUKAN MODERASI AGAMA 

• Agama tidak perlu dimoderasi karena agama itu sendiri telah mengajarkan prinsip moderasi, keadilan dan keseimbangan. 

• Jadi bukan agama yang harus dimoderasi, melainkan cara penganut agama dalam menjalankan agamanya itulah yang harus dimoderasi. 

• Tidak ada agama yang mengajarkan ekstremitas, tapi tidak sedikit orang yang menjalankan ajaran agama berubah menjadi ekstrem. 

MODERASI MENGHASILKAN TOLERANSI 

• Toleran itu adalah hasil yang diakibatkan oleh sikap moderat dalam beragama. 

• Moderasi adalah proses, toleransi adalah hasilnya. Seorang yang moderat bisa jadi tidak setuju atas suatu tafsir ajaran agama, tapi ia tidak akan menyalah-nyalahkan orang lain yang berbeda pendapat dengannya. 

• Begitu juga seorang yang moderat niscaya punya keberpihakan atas suatu tafsir agama, tapi ia tidak akan memaksakannya berlaku untuk orang lain. 

MODERASI BERAGAMA DALAM KONTEKS INDONESIA 

• Sebagai bangsa yang sangat beragam, sejak awal para pendiri bangsa sudah berhasil mewariskan satu bentuk kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara, yakni NKRI. 

• Indonesia disepakati bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya. Nilai-nilai agama dijaga dan dipadukan dengan nilai-nilai kearifan dan adat-istiadat lokal. 

• Beberapa hukum agama juga dilembagakan oleh negara, ritual agama dan budaya berjalin berkelindan dengan rukun dan damai. 

• Moderasi beragama harus menjadi bagian daristrategi kebudayaan untuk merawat jati diri kita tersebut. 

SIAPA YANG MENGAWAL MODERASI BERAGAMA? 

• Tegaknya moderasi beragama perlu dikawal bersama, baik oleh orang perorang maupun lembaga, baik masyarakat maupun negara. Kelompok beragama yang moderat harus lantang bersuara dan tidak lagi memilih menjadi mayoritas yang diam. 

• Setiap komponen bangsa harus yakin bahwa Indonesia memiliki modal sosial untuk memperkuat moderasi beragama. Modal sosial itu berupa nilai-nilai budaya lokal, kekayaan keragaman adat istiadat, tradisi bermusyawarah, serta budaya gotongroyong yang diwarisi masyarakat Indonesia secara turun temurun. 

• Modal sosial itu harus kita rawat, demi menciptakan kehidupan yang harmoni dalam keragaman budaya, etnis, dan agama. Jika dipikul bersama, Indonesia dapat menjadi inspirasi dunia dalam mempraktikkan moderasi beragama. 

• Negara perlu hadir memfasilitasi terciptanya ruang publik untuk menciptakan interaksi umat beragama. 

TERIMA KASIH

Komentar

Postingan Populer